Mengulas Gangguan Pendengaran pada Anak bersama Dr. Jeyanthi Kulasegarah (SJMC)
Dalam episode ini Medifly Podcast, konsultan ahli bedah THT Dr. Jeyanthi Kulasegarah membahas gangguan pendengaran pada anak, mencakup pentingnya skrining pendengaran universal pada bayi baru lahir, dampak kondisi yang tidak ditangani seperti glue ear dan infeksi telinga, serta perbedaan antara alat bantu dengar, cochlear implant, dan perangkat bantu dengar bone-anchored. Beliau menekankan bahwa masalah pendengaran harus ditangani seserius masalah penglihatan, dan mengimbau orang tua untuk tidak menunggu dan melihat, melainkan segera mencari penilaian dari spesialis.
Dokter dalam episode ini

Dr Jeyanthi Kulasegarah
ENT (Otorhinolaryngology)Subang Jaya Medical Centre
Gratis · Tanpa komitmen · Dibalas tim kami
Yang akan Anda pelajari
- Empat tahun pertama kehidupan sangat krusial untuk perkembangan pendengaran dan bahasa — skrining dan intervensi dini sangat penting.
- Hasil skrining pendengaran bayi baru lahir yang normal bukan akhir dari segalanya; orang tua harus terus memantau tonggak perkembangan anak.
- Glue ear dan infeksi telinga adalah kondisi yang umum, mudah terlewatkan, dan dapat berdampak signifikan pada kemampuan belajar anak jika tidak ditangani.
- Alat bantu dengar, cochlear implant, dan perangkat bone-anchored bekerja dengan cara yang sangat berbeda — pilihan yang tepat bergantung pada penilaian profesional terhadap jenis dan tingkat keparahan gangguan pendengaran.
- Perlakukan telinga seperti mata: jangan abaikan gangguan pendengaran; carilah pertolongan sama seperti yang Anda lakukan untuk masalah penglihatan.
Transkrip lengkap
8 menit bacaPengenalan & Latar Belakang Dr. Kulasegarah
Host: Halo semuanya, selamat datang kembali di Medifly Podcast. Ini adalah sekitar episode keempat atau kelima, dan hari ini saya berada di SGH bersama Dr. Jeyanthi Kulasegarah, konsultan ahli bedah telinga, hidung, dan tenggorokan dengan spesialisasi di bidang THT. Dokter, apakah Anda ingin memperkenalkan diri sebelum kita melanjutkan?
Dr. Kulasegarah: Saat ini saya bekerja di Subang Jaya Medical Centre. Saya menempuh pendidikan kedokteran di Royal College of Surgeons dan lulus pada tahun 2001. Setelah satu tahun magang, saya memulai pelatihan bedah di Irlandia, yang merupakan proses yang cukup panjang — dua tahun pelatihan bedah dasar dengan ujian di akhirnya, diikuti oleh enam tahun pelatihan spesialisasi THT dengan ujian lagi di akhirnya. Dalam enam tahun tersebut saya juga menyelesaikan PhD yang memakan waktu sekitar dua tahun. Secara keseluruhan, termasuk beberapa penugasan sebagai dokter selama dua hingga tiga tahun, total pelatihan saya berlangsung sekitar dua belas tahun.
Setelah resmi menjadi spesialis THT, saya menyelesaikan dua fellowship: satu di Auckland, Selandia Baru, di bidang THT anak, dan satu lagi di Birmingham, Inggris, di bidang bedah dasar tengkorak. Setelah semua itu saya kembali ke Malaysia pada tahun 2017, bekerja di Universiti Malaya hingga tahun 2025, lalu bergabung dengan Subang Jaya Medical Centre.
Mengapa Penelitian? Pengalaman PhD
Host: Anda menyebutkan PhD Anda di Trinity College Dublin. Banyak ahli bedah THT yang tidak menempuh PhD — apa yang mendorong Anda ke dunia penelitian, dan bagaimana hal itu mengubah cara Anda bekerja saat ini?
Dr. Kulasegarah: Saya memiliki jeda dua tahun dan saya pikir akan berguna untuk mencoba sesuatu yang sangat berbeda guna memperluas wawasan. Sebagian besar penelitian yang kita lakukan bersifat klinis — berdasarkan pasien dan data pasien. Penelitian berbasis laboratorium sangat berbeda. Anda berada di sana sendiri, berusaha memahami segalanya, mempelajari berbagai eksperimen. Itu adalah proses yang benar-benar membuka mata dan saya bersyukur sudah melakukannya. Hal itu mengajarkan saya manajemen waktu, cara mengolah dan menyajikan data. Justru di sanalah kemampuan presentasi saya benar-benar berkembang.
Mengapa THT Anak?
Host: Profil Anda sangat menonjolkan THT anak. Apakah fokus itu dimulai dari fellowship Anda?
Dr. Kulasegarah: Selama pelatihan THT saya, spesialisasi ini dibagi menjadi: hidung (rhinologi), telinga (otologi), kepala dan leher (laringologi), dan THT anak. Saat menjalani rotasi THT anak sebagai peserta pelatihan, saya benar-benar menikmatinya — begitu pula dengan otologi. Itulah mengapa saya mengambil dua fellowship: saya ingin menangani telinga dan saya juga ingin menangani anak-anak. Tantangan dengan anak-anak adalah bahwa bidang ini mencakup semua aspek THT, tetapi pada pasien yang lebih kecil — mulai dari saluran napas hingga pendengaran. Cakupannya cukup luas, sehingga fellowship sangat penting untuk memperluas pengalaman saya.
Seberapa Umum Gangguan Pendengaran pada Anak?
Host: Apakah gangguan pendengaran memang benar-benar umum terjadi pada anak sejak usia dini?
Dr. Kulasegarah: Ada dua jenis gangguan pendengaran. Yang pertama adalah gangguan pendengaran kongenital — Anda sudah terlahir dengannya — dan yang kedua adalah gangguan pendengaran yang didapat, di mana pendengaran menurun seiring waktu.
Untuk anak yang lahir dengan gangguan pendengaran, di masa lalu kita sering tidak mendeteksinya sejak awal. Empat tahun pertama kehidupan sangat krusial — itulah saat seluruh mekanisme pendengaran berkembang dan bahasa mulai dipelajari. Melewatkan jendela waktu itu berdampak besar. Di sinilah skrining pendengaran universal pada bayi baru lahir menjadi penting.
Di banyak tempat, skrining pendengaran sudah diwajibkan untuk semua bayi baru lahir. Di Malaysia sebagian besar rumah sakit sudah menerapkannya, namun masih belum tersedia di setiap rumah sakit karena membutuhkan peralatan dan tenaga terlatih. Di beberapa fasilitas dengan sumber daya terbatas, skrining hanya dilakukan pada bayi berisiko tinggi seperti bayi prematur.
Dulu kita mengikuti aturan 1-3-6: deteksi dalam satu bulan setelah lahir, konfirmasi diagnosis pada tiga bulan, dan pemasangan alat bantu dengar pada enam bulan. Kini kita berupaya mempersingkat itu menjadi kerangka 1-2-4. Ini memerlukan tim multidisiplin: bukan hanya THT, tetapi juga audiolog, dokter spesialis anak, dan dokter spesialis kandungan, karena konseling sudah dimulai saat ibu masih hamil.
Memantau Perkembangan Setelah Skrining Normal
Host: Jika seorang anak lulus skrining bayi baru lahir, apakah gangguan pendengaran masih bisa muncul di tahun pertama atau kedua? Tanda-tanda apa yang harus diperhatikan orang tua?
Dr. Kulasegarah: Ya. Kami selalu menyarankan orang tua untuk tetap memantau perkembangan anak terlepas dari hasil skrining — perhatikan apakah bayi sudah mulai mengoceh, kontak mata, dan mengucapkan kata pertama. Jika ada keterlambatan, sebaiknya segera konsultasikan ke spesialis agar kami bisa memulai rujukan ke audiolog untuk pemeriksaan yang lebih mendetail. Hasil skrining pendengaran yang normal tidak berarti segalanya baik-baik saja selamanya. Anda tetap harus memantau perkembangan bayi.
Glue Ear: Jangan Menunggu Anak "Sembuh Sendiri"
Host: Glue ear tampaknya sangat umum. Banyak orang tua yang menganggap anak akan sembuh sendiri — apakah ini menjadi kekhawatiran?
Dr. Kulasegarah: Glue ear terjadi karena cairan menumpuk di ruang di belakang gendang telinga. Penyebabnya adalah tuba Eustachius yang tidak berfungsi dengan baik. Pada anak-anak, tuba Eustachius jauh lebih pendek dan lebih mendatar, dan bukaannya berada di belakang hidung — di mana adenoid yang membesar dapat menyumbatnya, menyebabkan cairan menumpuk.
Bayangkan diri Anda berada di dalam air dan mencoba mendengar: Anda masih bisa mendengar, tetapi kejernihan suaranya tidak ada. Itulah yang dialami anak dengan glue ear. Jangan abaikan cairan di telinga tengah karena hal ini benar-benar berdampak pada kemampuan belajar anak — mereka harus berjuang keras dan tidak menangkap semua yang diucapkan. Periksakan sejak dini, karena ada cara untuk memperbaiki pendengaran sehingga anak dapat berkembang sesuai potensi terbaiknya.
"Jangan abaikan cairan di telinga tengah karena hal ini benar-benar berdampak pada kemampuan belajar anak. Mereka harus berjuang keras — mereka tidak menangkap semua yang diucapkan, kejernihan suaranya tidak ada."
Memahami Hasil Tes Pendengaran: Ringan, Sedang, Berat, Sangat Berat
Host: Ketika pasien melihat angka seperti "60 desibel" pada hasil tes pendengaran, hal itu bisa membingungkan. Bisakah Anda menjelaskan apa arti angka-angka tersebut?
Dr. Kulasegarah: Daripada berfokus pada angkanya sendiri, pertanyaan kuncinya adalah apakah seseorang mengalami gangguan pendengaran ringan, sedang, berat, atau sangat berat.
- Pendengaran normal: 20 dB ke bawah — semakin kecil angkanya, semakin baik.
- Gangguan pendengaran ringan: sekitar 20–40 dB
- Gangguan pendengaran sedang: sekitar 40–60 dB
- Semakin besar angkanya, semakin buruk pendengaran.
Jadi daripada berfokus pada angka, tanyakan kepada audiolog atau dokter THT Anda: "Apakah ini ringan, sedang, berat, atau sangat berat?" Kelompok berat hingga sangat berat adalah yang memerlukan perhatian paling besar, karena inilah kelompok di mana kita bergerak melampaui alat bantu dengar dan mulai mempertimbangkan cochlear implant.
Alat Bantu Dengar vs. Cochlear Implant vs. Perangkat Bone-Anchored
Dr. Kulasegarah: Perangkat-perangkat ini bekerja dengan cara yang sangat berbeda:
Alat bantu dengar Alat bantu dengar memperkuat suara akustik. Alat ini tidak memulihkan pendengaran normal — ia hanya memperkuat apa yang sudah ada. Di lingkungan yang bising, alat bantu dengar juga menangkap semua suara latar belakang, sehingga pemahaman seseorang terhadap percakapan masih bisa terganggu meskipun mengenakannya. Alat bantu dengar tidak memerlukan operasi.
Cochlear implant Cochlear implant memberikan jenis pendengaran yang berbeda — sinyal digital berupa listrik. Cara kerjanya sama sekali berbeda dari alat bantu dengar dan memerlukan operasi.
"Alat bantu dengar memperkuat suara — alat ini tidak memberikan pendengaran yang normal. Cochlear implant lebih merupakan pendengaran yang terdigitalisasi, pendengaran elektrik. Keduanya bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda."
Perangkat bantu dengar bone-anchored (misalnya bone bridge) Ada dua jenis gangguan pendengaran:
- Gangguan pendengaran konduktif — suara tidak dapat mencapai telinga dalam karena ada sesuatu yang menyumbat saluran telinga, ada masalah pada gendang telinga, atau ketiga tulang pendengaran mengalami gangguan.
- Gangguan pendengaran sensorineural — masalahnya terletak pada koklea, saraf pendengaran, atau bagian otak yang terlibat dalam pendengaran.
Bone bridge menempatkan perangkat pendengaran pada tulang. Suara yang dihantarkan melalui tulang melewati telinga luar dan telinga tengah sepenuhnya dan langsung menuju organ pendengaran. Ini sangat berbeda dari alat bantu dengar konvensional, di mana suara harus melewati saluran telinga, gendang telinga, dan tulang-tulang pendengaran sebelum mencapai telinga dalam.
"Daripada berfokus pada perangkat mana yang cocok untuk anak Anda, lakukanlah penilaian terlebih dahulu. Begitu kami sebagai tenaga profesional melihat jenis gangguan pendengarannya, kami akan menentukan perangkat yang sesuai untuk anak dan melanjutkan dari sana."
Kondisi Telinga Umum Lain yang Tidak Boleh Diabaikan Orang Tua
Dr. Kulasegarah: Glue ear adalah salah satu penyebab gangguan pendengaran yang paling umum pada anak — mudah terlewatkan dan mudah diperbaiki.
Infeksi telinga adalah kondisi lainnya: tolong jangan anggap enteng. Telinga yang mengeluarkan cairan sangat sering diabaikan oleh orang tua — "hanya sedikit cairan, kita lihat saja nanti" — dan dibiarkan selama berminggu-minggu. Terkadang cairan tersebut merupakan tanda bahwa ada sesuatu yang lebih serius terjadi di dalam telinga. Periksakan, karena ini adalah hal-hal yang bisa diperbaiki dengan cukup mudah sebelum menyebabkan kerusakan yang tidak dapat dipulihkan.
Saran Utama Dr. Kulasegarah untuk Orang Tua
"Perlakukan telinga Anda seperti Anda memperlakukan mata. Ketika Anda mengalami masalah penglihatan, Anda pergi untuk mendapatkan kacamata — tanpa berpikir panjang. Tetapi entah mengapa, untuk gangguan pendengaran, orang sangat enggan untuk melakukan sesuatu. Hal itu benar-benar diabaikan. Cukup perlakukan telinga Anda seperti Anda memperlakukan mata."
Penutup
Host: Terima kasih banyak, Dr. Kulasegarah, sudah bergabung di Bagian 1 podcast ini. Kita akan melanjutkan dengan bagian kedua yang berfokus pada pendengaran orang dewasa. Dr. Kulasegarah berpraktik di Subang Jaya Medical Centre di Kuala Lumpur. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan tinggalkan komentar di bawah. Beliau juga aktif di media sosial.
Dr. Kulasegarah: Ya — nama pengguna saya adalah @JENT — silakan telusuri. Akunnya membahas tidak hanya pendengaran dan telinga, tetapi juga banyak topik lainnya. Terima kasih atas kesempatan ini dan saya menantikan podcast berikutnya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu aturan 1-3-6 untuk skrining pendengaran bayi baru lahir?
Menurut Dr. Kulasegarah, aturan 1-3-6 berarti mendeteksi kemungkinan gangguan pendengaran dalam satu bulan setelah lahir, mengonfirmasi diagnosis pada tiga bulan, dan memasang alat bantu dengar pada enam bulan. Kini ada dorongan untuk mempersingkat ini menjadi kerangka 1-2-4.
Apa itu glue ear dan mengapa kondisi ini begitu sering terjadi pada anak-anak?
Glue ear adalah kondisi ketika cairan menumpuk di ruang di belakang gendang telinga karena tuba Eustachius tidak berfungsi dengan baik. Pada anak-anak, tuba Eustachius lebih pendek dan lebih mendatar dibandingkan pada orang dewasa, dan adenoid yang membesar di dekat bukaannya dapat menyumbatnya sehingga cairan menumpuk. Hal ini mengurangi kejernihan pendengaran dan memengaruhi kemampuan anak untuk belajar dan berkomunikasi.
Apa perbedaan antara alat bantu dengar dan cochlear implant?
Alat bantu dengar memperkuat suara akustik tanpa operasi, tetapi tidak memulihkan pendengaran normal dan masih bisa kesulitan di lingkungan yang bising. Cochlear implant memberikan bentuk pendengaran yang terdigitalisasi dan bersifat elektrik, serta memerlukan operasi. Keduanya bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda, dan cochlear implant biasanya dipertimbangkan ketika alat bantu dengar tidak memberikan manfaat yang cukup.
Bagaimana saya tahu apakah anak saya memerlukan perangkat bone-anchored daripada alat bantu dengar biasa?
Dr. Kulasegarah menyarankan agar Anda tidak mencoba memutuskan ini sendiri. Jenis perangkat yang digunakan bergantung pada apakah anak mengalami gangguan pendengaran konduktif (masalah pada telinga luar atau tengah) atau gangguan pendengaran sensorineural (masalah pada koklea, saraf pendengaran, atau otak). Penilaian oleh spesialis akan menentukan perangkat yang tepat.
Jika bayi saya lulus skrining pendengaran bayi baru lahir, apakah saya masih perlu waspada terhadap masalah pendengaran?
Ya. Dr. Kulasegarah menekankan bahwa hasil skrining pendengaran yang normal tidak berarti segalanya akan baik-baik saja selamanya. Orang tua harus terus memantau perkembangan anak — terutama ocehan bayi, kontak mata, dan kata pertama — dan segera menemui spesialis jika ada keterlambatan yang diperhatikan.
Paket terkait
Siap melangkah lebih jauh? Lihat paket yang berkaitan dengan topik ini.
62% OFFGeneral Check-Up
Mid-Year Deal Health Screening Bundle Package
Grab our Mid-Year Health Screening Bundle Deal at RM794 and take charge of your health today. Enjoy a comprehensive screening at SJMC’s O…
- Clinical Examination & Consultation by Health Screening Doctor
- Vision assessment
- Body composition analysis

General Check-Up
Pre-Employment Screening
Package includes: - Consultation by Health Screening Doctor - Vision Test - Anthropometric Measurement - Vital Signs - Chest X-Ray - Uri…

General Check-Up
Personalised Wellness Genetic Screening Test & Ancestry DNA Test
Personalised Wellness Genetic Screening Test is designed for individuals who want to better understand how their DNA may influence differ…
- Personalised wellness genetic test
- Ancestry DNA test (Ancestry discover & Continental admixture)
Episode lainnya
Clinical OncologyBahas Tuntas Kanker Payudara dengan Dr. Lum Wan Wei (Beacon Hospital)
Orthopaedic SurgeryKupas Tuntas Cedera ACL, Operasi Lutut & Robotic Surgery dengan Dr. Kow Ren Yi (ALTY)
Paediatric Orthopaedics