Ringkasan
Pemasangan gips dan bidai adalah tindakan non-bedah yang menahan tulang patah atau sendi yang cedera pada posisi yang benar agar bisa sembuh dengan baik.
Ketika tulang patah atau sendi mengalami keseleo berat, bagian-bagian tersebut harus tetap diam dan sejajar agar tubuh bisa memperbaikinya. Gips adalah cangkang keras — biasanya terbuat dari plester atau fiberglas — yang mengelilingi area cedera sepenuhnya dan mencegahnya bergerak. Bidai adalah cangkang setengah lingkaran yang satu sisinya dibiarkan terbuka; bidai sering digunakan dalam beberapa hari pertama setelah cedera saat bengkak masih bertambah, karena sisi yang terbuka memberi ruang bagi anggota tubuh untuk membesar tanpa menghambat aliran darah. Kedua alat ini bekerja dengan cara imobilisasi (menahan agar tidak bergerak) area yang cedera sehingga tulang atau jaringan baru bisa terbentuk dengan aman.
Kondisi Medis
Pemasangan gips dan bidai digunakan setiap kali tulang atau sendi yang cedera perlu ditahan agar bisa sembuh dengan benar. Ini adalah salah satu tindakan paling umum dalam perawatan ortopedi (tulang dan sendi) serta trauma.
- Fraktur (tulang patah) pada lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, tangan, tungkai, pergelangan kaki, atau kaki yang tidak memerlukan operasi
- Fraktur yang sudah dikoreksi melalui operasi dan memerlukan perlindungan tambahan selama pemulihan
- Keseleo parah atau robekan ligamen (jaringan pengikat sendi) — terutama di pergelangan kaki atau tangan — yang membutuhkan stabilitas sendi
- Dislokasi (ketika sendi terlepas dari posisi normalnya) setelah sendi dikembalikan ke tempatnya
- Cedera tendon (urat otot) yang memerlukan area tersebut untuk tidak bergerak selama penyembuhan
- Fraktur stres (retakan kecil akibat tekanan berulang) pada atlet atau individu yang aktif bergerak
- Fraktur tipe buckle atau greenstick pada anak-anak, di mana tulang hanya patah sebagian
Pemasangan gips atau bidai umumnya tidak cocok dalam situasi tertentu. Dokter akan menilai apakah pendekatan lain lebih tepat.
- Fraktur terbuka (di mana tulang yang patah menembus kulit) — kondisi ini biasanya memerlukan operasi terlebih dahulu
- Fraktur dengan pergeseran tulang yang parah dan tidak bisa diluruskan tanpa operasi
- Cedera disertai kerusakan serius pada pembuluh darah atau saraf yang memerlukan perbaikan bedah segera
- Infeksi kulit aktif atau luka terbuka tepat di bawah area yang akan dipasang gips
- Bengkak yang sangat parah atau gangguan sirkulasi darah yang membuat pemasangan gips keras tidak aman sejak awal
Risiko & Komplikasi
Pemasangan gips dan bidai pada umumnya sangat aman, tetapi seperti perawatan apa pun yang membuat anggota tubuh tidak bergerak selama beberapa waktu, ada sejumlah risiko yang perlu diketahui.
- Luka tekan atau iritasi kulit di bawah gips, terutama jika bantalan bergeser atau gips menjadi terlalu ketat
- Pembengkakan setelah pemasangan yang membuat gips terasa tidak nyaman atau, dalam kasus langka, sangat ketat hingga berbahaya — kondisi ini disebut sindrom kompartemen (peningkatan tekanan di dalam anggota tubuh yang menghambat aliran darah dan memerlukan penanganan segera)
- Gatal, ruam kulit, atau reaksi alergi terhadap bahan gips atau bantalannya
- Kelemahan otot dan kekakuan sendi akibat anggota tubuh yang tidak bergerak selama beberapa minggu
- Kontraktur sendi (pemendekan otot atau tendon yang membatasi gerakan) jika imobilisasi berlangsung lama
- Gips yang basah, retak, atau longgar, yang dapat menyebabkan tulang bergeser dari posisinya
- DVT atau deep vein thrombosis (gumpalan darah yang terbentuk di pembuluh darah balik kaki) saat anggota tubuh bawah tidak bergerak dalam waktu lama — lebih umum terjadi pada gips kaki
- Pada anak-anak, dalam kasus yang sangat jarang, gangguan pertumbuhan jika fraktur mengenai lempeng pertumbuhan (area di ujung tulang yang masih berkembang)
- Malunion (tulang sembuh dalam posisi yang sedikit tidak tepat) jika gips melonggar tanpa disadari
Persiapan & Prosedur
Karena pemasangan gips atau bidai biasanya dilakukan setelah cedera akut (tiba-tiba), persiapan formal seringkali sangat minim. Namun, tim medis akan melakukan beberapa langkah sebelum dan selama tindakan untuk memastikan tulang berada dalam posisi yang tepat dan gips terpasang dengan aman.
Sebelum gips atau bidai dipasang, dokter biasanya akan meminta satu atau beberapa pemeriksaan berikut.
- Foto Rontgen (X-ray) area yang cedera untuk memastikan lokasi dan jenis fraktur serta memeriksa posisi tulang
- Pemeriksaan neurovaskuler — dokter atau perawat memeriksa sirkulasi darah, sensasi (rasa), dan gerakan jari tangan atau kaki di luar area cedera untuk memastikan tidak ada kerusakan saraf atau pembuluh darah
- Penilaian kondisi kulit di sekitar cedera untuk mencari luka terbuka, lepuhan, atau memar yang dapat mempengaruhi pemasangan gips
- Pada fraktur yang kompleks, CT scan (foto rontgen penampang melintang yang lebih rinci) mungkin diminta untuk melihat gambaran lengkap sebelum menentukan pengobatan
Jika tulang tidak berada pada posisi yang benar, dokter akan melakukan reduksi (manuver untuk mengembalikan tulang ke posisi yang tepat) sebelum memasang gips. Tindakan ini dapat dilakukan dengan bius lokal (obat penghilang rasa yang disuntikkan di dekat area cedera), sedasi (obat penenang yang diberikan melalui infus), atau dalam beberapa kasus dengan bius total singkat (obat yang membuat pasien tidak sadar sepenuhnya). Pasien akan diminta untuk tidak makan atau minum selama beberapa waktu sebelumnya jika sedasi atau bius total direncanakan — tim medis akan memberitahu jangka waktu yang tepat.
Tindakan pemasangan itu sendiri mengikuti urutan langkah yang konsisten, meskipun jumlah dan detail langkahnya bisa berbeda tergantung pada bagian tubuh yang terlibat dan jenis gips yang digunakan.
- 1. Anggota tubuh yang cedera dibersihkan dengan lembut dan setiap luka terbuka atau lecet dibalut.
- 2. Stockinette (sarung tubular yang lembut) dimasukkan ke anggota tubuh untuk melindungi kulit.
- 3. Bantalan kapas lembut atau bahan sintetis dililitkan di sekitar anggota tubuh untuk meredam tekanan pada titik-titik sensitif dan melindungi area tulang yang menonjol.
- 4. Bahan gips — perban plester basah atau selotip fiberglas — dililitkan dalam lapisan tumpang tindih di atas bantalan.
- 5. Anggota tubuh ditahan dalam posisi yang telah dipilih dokter sampai bahan gips mengeras. Plester biasanya mulai mengeras dalam beberapa menit tetapi terus mengeras selama satu hingga dua hari ke depan; fiberglas mengeras lebih cepat.
- 6. Tepi-tepi gips dipangkas atau diberi bantalan agar tidak menggores kulit.
- 7. Foto Rontgen biasanya diambil kembali untuk memastikan tulang tetap berada pada posisi yang benar di dalam gips.
- 8. Tim medis memeriksa sirkulasi, sensasi, dan gerakan jari tangan atau kaki sekali lagi sebelum pasien diperbolehkan pulang.
Perawatan Setelah Tindakan
Sebagian besar pasien boleh pulang pada hari yang sama dengan instruksi jelas mengenai hal-hal yang perlu diwaspadai. Masa pemulihan bervariasi cukup besar tergantung pada tulang mana yang patah, seberapa parah frakturnya, serta usia dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan — dokter akan memberikan perkiraan waktu yang lebih spesifik.
- Elevasi: mengangkat anggota tubuh yang dipasangi gips di atas posisi jantung — biasanya setidaknya dalam 24 hingga 48 jam pertama — membantu mengurangi bengkak dan rasa tidak nyaman.
- Pembatasan menumpu berat badan: untuk gips kaki atau telapak kaki, dokter akan menentukan apakah pasien boleh menumpu berat badan pada anggota tubuh tersebut; kruk atau alat bantu jalan sering kali diperlukan.
- Menjaga gips tetap kering: gips plester tidak boleh terkena air karena kelembapan melemahkan strukturnya dan dapat menyebabkan masalah kulit. Gips fiberglas mungkin tahan terhadap kelembapan terbatas dalam beberapa situasi — tim medis akan memberikan saran. Penutup gips tahan air tersedia di sebagian besar apotek.
- Memantau sirkulasi darah: pasien atau anggota keluarga perlu rutin memperhatikan tanda-tanda gips yang terlalu ketat — nyeri yang semakin parah, mati rasa atau kesemutan di jari tangan atau kaki, jari yang menjadi pucat atau kebiruan, atau anggota tubuh yang terasa dingin. Tanda-tanda ini memerlukan penanganan medis segera.
- Jangan mendorong benda ke dalam gips untuk menggaruk kulit yang gatal, karena ini dapat menyebabkan luka atau infeksi.
- Perawatan kulit dan luka: setelah gips dilepas, kulit di bawahnya sering terasa kering dan mungkin mengelupas; mencuci dengan lembut dan menggunakan pelembap biasanya sudah cukup.
- Foto Rontgen kontrol: dalam kebanyakan kasus, dokter akan menjadwalkan satu atau beberapa kunjungan kontrol beserta pengulangan foto Rontgen untuk memastikan tulang sembuh pada posisi yang benar dan untuk memutuskan kapan gips bisa dilepas dengan aman.
- Pelepasan gips: gips dipotong oleh teknisi atau perawat menggunakan gergaji getar khusus yang dirancang untuk memotong cangkang keras tanpa melukai kulit. Prosesnya tidak menyakitkan, meskipun gergajinya mengeluarkan suara keras.
- Fisioterapi (latihan untuk memulihkan pergerakan dan kekuatan otot) sering disarankan setelah gips dilepas, terutama untuk fraktur di dekat sendi atau gips yang dipakai selama beberapa minggu.
- Merokok dapat memperlambat penyembuhan tulang secara signifikan; pasien yang merokok biasanya disarankan oleh dokternya untuk mengurangi atau berhenti merokok selama masa penyembuhan.
- Alkohol dapat berinteraksi dengan beberapa obat pereda nyeri dan dapat mempengaruhi kemampuan menilai tingkat rasa sakit — tim medis akan memberikan saran tentang apa yang aman.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa kali kunjungan yang saya butuhkan untuk pemasangan gips atau bidai?
Sebagian besar pasien hanya perlu datang satu kali untuk proses pemasangan, tetapi biasanya Anda akan diminta kembali setiap satu hingga tiga minggu agar dokter dapat memantau proses penyembuhan tulang dan menyesuaikan atau mengganti gips jika diperlukan. Jumlah kunjungan kontrol bergantung pada tulang mana yang patah, seberapa parah cederanya, dan seberapa cepat tubuh Anda pulih. Dokter akan membuat jadwal kontrol yang sesuai setelah memeriksa hasil foto Rontgen Anda.
Apakah proses pemasangan gips atau bidai terasa sakit?
Proses pemasangannya sendiri tidak menyakitkan — bahan gips diaplikasikan dalam kondisi basah dan hangat, lalu mengeras mengelilingi area yang cedera untuk menahannya tetap diam. Beberapa orang merasakan sedikit tekanan atau kehangatan saat gips mengeras, dan ini biasanya hilang dalam beberapa menit. Jika area yang cedera masih sangat bengkak atau memar, dokter mungkin akan memasang bidai terlebih dahulu — yaitu penyangga sebagian yang tidak melingkar penuh — lalu mengganti dengan gips penuh setelah pembengkakan berkurang.
Seberapa cepat rasa sakit akan berkurang setelah gips atau bidai dipasang?
Banyak pasien merasa jauh lebih nyaman dalam satu hingga dua hari pertama setelah tulang atau sendi yang cedera diimobilisasi (ditahan agar tidak bergerak), karena gerakan adalah penyebab utama nyeri pada patah tulang. Sedikit rasa pegal dan pembengkakan di sekitar area cedera adalah hal yang wajar selama seminggu pertama. Jika rasa sakit justru semakin parah setelah gips dipasang, segera hubungi dokter, karena hal ini bisa menjadi tanda bahwa gips perlu disesuaikan.
Apa saja tanda bahaya yang perlu saya waspadai selama memakai gips atau bidai?
Segera cari pertolongan medis jika Anda mengalami rasa sakit yang semakin meningkat, mati rasa atau kesemutan, jari tangan atau kaki yang terasa sangat dingin atau tampak kebiruan dan pucat, rasa gatal atau panas yang intens di bawah gips, atau jika gips retak, basah, atau menjadi lunak. Tanda-tanda ini bisa berarti gips terlalu ketat, aliran darah terganggu, atau gips sudah tidak lagi menopang tulang dengan benar. Jangan pernah mencoba melepas atau memotong gips sendiri — selalu kembali ke dokter atau tim perawatan Anda.
Informasi di halaman ini bersifat umum dan bukan pengganti konsultasi medis. Setiap kondisi berbeda — dokter Anda yang menentukan tindakan yang paling tepat. Hubungi tim kami untuk diarahkan ke dokter spesialis yang sesuai.








